Alat Pengolah Limbah Batik

Gambar

Dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, berhasil menciptakan alat pengolah air limbah batik mobile. Alat sederhana tersebut dinamai Unit Pengolahan Air Limbah Reaktor Elektrokimia (UPAL RE).

UPAL RE merupakan hasil riset sejak 2009, yang sengaja dibuat mobile atau bisa dibawa kemana-mana agar mudah menjangkau perajin batik yang berada di perkampungan.

Ketua Tim Riset Fakultas Teknik UNS, Budi Utomo berharap dengan alat tersebut, air bekas proses pencucian batik yang berwarna dan mengandung beberapa zat warna sintetis dan alami bisa diurai menjadi lebih jernih.

“Hasilnya bisa lebih jernih karena zat warnanya telah dipisahkan, selain itu kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) juga berkurang. Harapannya air limbah batik yang dibuang ke sungai, bisa memenuhi batas baku mutu lingkungan,” ujar Budi kepada wartawan di UNS Solo, Selasa (15/1).
 
Alat tersebut berupa sebuah bak yang mampu menampung sekitar 250 liter air limbah. Bak air tersebut dilengkapi dengan susunan plat logam yang terdiri dari alumunium dan besi. Nantinya plat tersebut berfungsi sebagai katoda atau arus negatif sedangkan alumunium berfungsi sebagai anoda atau arus positif.
 
“Kita juga butuh sumber listrik AC 220 Volt yang kita ubah menjadi DC 15 Volt dengan menggunakan adaptor. Fungsinya untuk membantu reaksi kimia yang dilewatkan dalam larutan elektrolit,” lanjutnya.

Budi menerangkan, jika air limbah dimasukkan ke dalam bak, maka akan muncul gelembung-gelembung atau flog yang mengapung ke atas. Gelembung tersebut mampu mengikat zat warna yang terdapat dalam air limbah batik tersebut dalam waktu antara 30 hingga 40 menit.
 
Menurut Budi, pihaknya telah melakukan percobaan di Kampung Batik Kauman Solo. Hasilnya kandungan COD air limbah batik yang telah diolah menggunakan UPAL RE tersebut mampu dikurangi menjadi 95 persen pada batik yang menggunakan zat pewarna alami. Sementara pada percobaan untuk batik yang menggunakan zat warna sintetis mampu dikurangi 85 persen.
 
“Dengan alat ini, kandungan COD dari air limbah yang telah diolah mencapai 22 mg/liter atau masih di bawah baku mutu air yang boleh dibuang ke sungai yakni maksimal 150 mg/l. Sedangkan untuk zat warna kita mampu mengurangi dari 339 PtCo menjadi 70 PtCo,” katanya.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s