Microsoft Indonesia Fokus Untuk Ritel

Microsoft Corporation meluncurkan system operasi terbaru, yaitu Windows 8. Tantangan yang dihadapi Microsoft tidak mudah, yaitu pembajakan. Microsoft Indonesia menyiapkan sejumlah strategi untuk menaikkan penjualan, seperti focus dibidang bisnis ritel. Berikut keterangan dari Andreas Diantoro, Presiden Direktur Microsoft Indonesia.

            Pekerjaan menjadi Presiden Direktur Microsoft Indonesia susah. Ingin Microsoft menjadi nomor satu di Indonesia? Menguasai pasar? Kita sudah. Kalau hanya itu, kami sudah sampai. Jika itu targetnya, saya tidak butuh usaha menjadi Presiden Direktur Microsoft di Indonesia.

            Yang lebih penting bagi saya, bagaimana agar produk dan servis kami bisa dipakai dengan benar oleh masyrakat. Misi Micorsoft ada dua. Pertama, membuat manusia Indonesia menjadi lebih produktif dalam kehidupannya. Kedua, membuat orang Indonesia sejahter. Karena itu, semua aktivitas dan bisnis kami bertujuan untuk membuat misi itu tercapai, dengan teknologi dan best practice yang kami punya.

            Banyak yang sudah kami lakukan, terutama berkaitan dengan entrepreneurship. Sekarang, Windows punya market. Windows 8 memiliki Windows Store sedang Windows Phone 8 punya Windows Phone Store.

            Kami rutin memberikan konsultasi, saran, kepada pengembang software, termasuk yang professional, amatir, dan student. Tujuannya, bagaimana mereka bisa membuat software berdasarkan teknologi Microsoft.

            Harga software mereka tidak mahal, berkisar Rp 8.000-Rp 10.000 tiap software. Termahal hanya Rp 20.000. software bisa didownload langsung dari internet atau dari smartphone yang menggunakan system operasi Windows dengan melakukan pemotongan pulsa.

            Tapi software yang murah itu, misalnya Rp 10.000 untuk pengembang software sangat luar biasa nilainya. Ada 600 juta pengguna Windows di dunia. Jika ada satu juta saja yang mengunduh software buatan anak Indonesia, maka bisa mendapat Rp 10 miliar. Ini contoh digital entrepreneurship.

            Di bidang entrepreneurship tradisional, kami juga menawarkan solusi. Contohnya, untuk pengusaha usaha kecil-menengah (UKM), lima bulan lalu kami merilis produk software Office 365. Jika biasanya software dibeli dengan harga sekitar Rp 1 juta-Rp 1,5 juta tiap software, maka Office 365 bisa disewa oleh pengusaha UKM dengan tariff mulai dari Rp 36.000 tiap bulan.

            Mereka tidak hanya mendapat software, tapi juga mendapat situs bisnis, alamat e-mail sendiri. Bahkan, layanan dari Microsoft selama 24 jam, tujuh hari dalam seminggu.

            Ada juga produk Microsoft, Azure, yang memungkinkan pengusaha UKM menitipkan platform bisnisnya. Sebagai contoh, pengusaha UKM yang ingin bsinis online tidak perlu repot membangun infrastruktur, data center, dan sebagainya. Berikan ke Microsoft saja. Tarifnya tiap bulan, sesuai dengan penggunaan dan kapasitas.

            Selain itu, masih ada program-program lain, seperti Microsoft Innovation Center (MIC). Ini seperti laboratorium pengembangan milik Microsoft yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Bina Nusantara (Binus), dan Universitas Pelita Harapan (UPH). Jika ada pengusaha UKM yang di Yogyakarta yang ingin punya bisnis online, bisa dating ke MIC UGM, nanti akan dibuatkan sistemnya.

            Ada juga program untuk para start-up, seperti BizSpark yang ditujukan untuk pengembang bisnis online atau software. Kemudian, ada berbagai rangkaian kegiatan regular, seperti seminar, pelatihan, dan sebagainya tentang produk-produk Microsoft. Contohnya untuk guru. Dalam kegiatan ini, kami mengeukasi bahwa 63% produk bajakan selalu mengandung malware atau semacam program pengintai (spyware). Program ini akan mencuri identitas si pengguna produk bajakan.

            Semua itu bisa sekaligus menjadi solusi dari tantangan terbesar kami, yaitu pembajakan. Produk Microsoft Office di Indonesia itu bisa mencapai 97%. Sangat besar? Tetapi, hanya 10% yang menggunakan produk asli Microsoft.

            Jika piracy rate atau pembajakan bisa turu 1% saja, saya sudah sangat bahagia. Untuk bisa mencapai angka itu sangat sulit, meski kami sudah upayakan dari segiu education, push, dan segala macam cara yang saya jelaskan dengan tujuan mengurangi piracy rate. Dari seluruh computer di Indonesia, saat ini, sekitar 87% berisi software bajakan.

            Tantangan terbesar lain, dan menurut saya yang paling menjadi masalah utama adalah finding the right person for Microsoft. Orang memang banyak, tapi mencari yang tepat untuk Microsoft itu sangat susah.

            Dengan dua tantangan besar tersebut, saya ingin Microsoft lebih push ke online services dan bisnis ritel atau consumer. Penjualan kami hampir 80% adalah komersial. Komersial itu artinya perusahaan besar dan UKM.

            Bisanya kalau kami bicara perusahaan besar, berarti commercial business. Kepada mereka, metode penjualannya one to one relationship. Kalau istilah dalam marketing, below the line. Langkah konkretnya, penjualan melalui seminar, berbagai macam forum, seperti executive forum. CEO forum, atau technology forum.

            Untuk consumer, porsinya belum banyak. Penyebabnya, pertama, karena pembajakan. Kedua, karena sebelum saya memang tidak ada orang yang mengerti sector consumer. Jadi, arah para leader sebelum saya, focus di sector komersial saja. Kalau saya, baik komersial dan consumer mengerti, karena saya orang Indonesia yang sudah 18 tahun di bisnis ini.

            Kenapa consumer penting? Sekitar 248 juta manusia di Indonesia itu konsumen. Growth ekonomi Indonesia 6,5% tiap tahun. Dari angka pertumbuhan itu, sekitar 60% adalah consumer spending. Kalau tidak ikut tren ke bisnis ritel, Microsoft akan tertinggal. Karena rakyat Indonesia itu besar sekali, kalau kami tidak ikut, saying sekali.

            Pertumbuhan opportunity sector ritel paling besar. Pasarnya besar sekali. Cuma, banyak orang tidak tahu di mana membeli produk Microsoft yang asli. Mereka hanya tahu, membeli computer di Mangga Dua.

            Berniat membeli yang asli, tetapi alternative yang ditawarkan sangat banyak. Tidak jadi membeli yang asli. Karena itu, kalau bisa konsumen itu dibawa sejauh mungkin dari Mangga Dua.

            Oleh karena itu, bulan Juni 2013 saya menargetkan ada sekitar 500 toko ritel partner kami kalau bisa sudah resmi berdiri. Kami juga sedang mengkaji pembuatan Toko Microsoft untuk memperkuat penjualan di sector ritel. Memang belum bisa saya pastikan kapan Toko Micorsoft mulai berdiri karena masih dalam pembahasan wacana kami.

            Lalu, kami terus memperkuat promosi. Anda bisa lihat promosi kami dalam enam bulan ini. Biayanya sangat besar, mencapai puluhan miliar. Bulan Januari dan Februari agak tenang. Kami akan tingkatkan lagi promosi di Maret atau Mei.

Gambar

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s