Aktivitas Matahari

Revolusi pecah di Libya, lalu Tunisia, dan Mesir. Perang di Suriah dan sekarang di Gaza, Palestina. Kekerasan ini meningkat tajam sepanjang 2012 baik di Indonesia maupun dunia, jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah ilmuwan meyakini ada keterkaitan antar persitiwa itu.

            Sejak lama diketahui bahwa Matahari memiliki siklus aktif 11 tahun. Secara periodic, tiap 11 tahun, aktivitas Matahari mencapai puncaknya, ditandai kemunculan bintik hitam (sunspot) di permukaan Matahari. Aktivitas medan magnetic yang kuat dipermukaan Matahari yang ditandai kehadiran sunspot ini menimbulkan flare dan coronal mass injection (CME).

            Aktivitas tinggi flare dan CME ini yang kemudian dapat menimbulkan badai Matahari. Apabila partikel plasma berupa electron dan proton yang dihasilkan dari lompatan CME Matahari sampai ke Bumi, hal itu dapat menimbulkan gangguan gelombang elektromagnetik. Medan magnetic static Bumi yang menjadi perisai, tidak selalu bisa diandalkan. Seperti dirilis NASA, 2003 silam, terdeteksi celah di perisai alami ini.

            “gangguan gelombang magnetic di Bumi tercipta dari radiasi Matahari ini dapat memengaruhi gen manusia. Perubahan reaksi kimia pada otak dan hormone inilah kemudian menimbulkan reaksi psikologis. Pria menjadi lebih agresif, sementara pada wanita, memengaruhi tingkat kesuburannya,” kata Maurice Cotterell, ilmuwan asal Inggris yang meneliti siklus aktivitas Matahari dan dampaknya selama 24 tahun terakhir., dalam sebuah wawancara di stasiun televise asing.

            Bahkan, pada 1963, Robert Becker dan Freedman, peneliti elektro-fisiologi asal Amerika Serikat, melakukan riset yang membuktikan bahwa peningkatan aktivitas Matahari juga memicu meningkatnya kasus gangguan kejiwaan. Kasus skizofrenia meningkat dalam sebuah riset di Eropa dan Amerika Serikat, ketika siklus puncak Matahari terjadi.

            Seperti diketahui, setiap sel di tubuh manusia mengandung ion-ion positif dan negative. Gelombang elektromagnetik yang diterima dari luar tubuh, seperti saat terjadinya radiasi dari badai Matahari, menstimulus enzim lalu menaikkan ion positif di sel. Peningkatan energy ini kemudian diterjemahkan lobus prontal bagian dari otak besar yang mengontrol perilaku.

            “sel, unit terkecil tiap makhluk hidup, tidak lain adalah sebuah resonator elektromagnetik. Itu mampu memancarkan dan menyerap radiasi dengan frekuensi tinggi,” kata Georges Lakhovsky, ilmuwan Rusia, dalam bukunya Secret of Life. Dengan kata lain, radiasi elektromagnetik itu bisa meningkatkan emosi sekaligus kecerdasan manusia.

            Di tahun 2012 ini, aktivitas Matahari memasuki fase puncak siklus 11 tahun. Para ahli menyebutnya siklus puncak 24, sejak 1755. Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, sepanjang 2012 terjadi pembentukan sunspot Matahari. Sebagian di antaranya menimbulkan CME dan badai antariksa.

            Sebagai contoh, pada 23 Januari, terjadi ledakan kuat CME yang menimbulkan badai radiasi gelombang elektromagnetik level S3 di atmosfer Bumi. Badai ini adalah yang terkuat sejak 2005. Kebetulan atau tidak, di hari selanjutnya, Selasa, 24 Januari, kerusuhan nuansa etnis terjadi di Sidomulyo, Lampung Selatan. Dua hari setelah itu, perkantoran Pemerintah Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat di bakar warga.

            Lalu, pada 22 Oktober, ledakan flare terjadi lagi pada Matahari. Lembaga NOAA Amerika Serikat mengeluarkan peringatan akan kemungkinan terjadinya gangguan komunikasi (blackout) akibat dampak ledakan CME ke Bumi. Tepat di hari itu, Poso, Sulawesi Tengah, rusuh. Bom meledak. Seminggu kemudian, kerusuhan besar terjadi di Way Panji, Lampung Selatan, 14 orang tewas dan 400 rumah dibakar.

            Melihat ke belakang, 11 tahun lalu, sejumlah peristiwa besar kekerasan juga terjadi tepat di siklus puncak Matahari. Tragedy serangan World Trade Center (WTC), 11 September 2001, di Amerika Serikat, yang menewaskan lebih kurang 3.000 orang, kemudian perang Afghanistan, tercatat sebagai noktah hitam kekerasan terbesar dalam sejarah peradaban modern. Di lingkungan local, masih di tahun yang sama, kerusuhan Sampit (di Kalimantan).

            Jauh hari sebelum kekerasan global ini terjadi, ilmuwan asal Rusia, Alexander Chizhevsky, telah mengemukakan hipotesa bahwa aktivitas puncak Matahari berkorelasi pada terciptanya konflik, kekerasan, dan perang, sepanjang peradaban manusia.

            “Sejarah berbicara, bangkit jatuhnya peradaban besar, seperti Romawi, juga tidak terlepas dari siklus aktivtas Matahari ini. Kekuatan Matahari sungguh menakjubkan. Ketika berubah, kita, manusia juga ikut berubah,” kata David Ilke, penulis ternama asal Inggris dalam sebuah wawancara di televise BBC.

            Meskipun demikian, radiasi kosmik dari Matahari, seperti dikatakan Georges Lakhovsky, bisa member manfaat positif. Ketika terkena radiasi ini, manusia menjadi lebih vital, subur (wanita), agresif, lalu imunitasnya tinggi. Sejarah membuktikan, ketika Matahari memasuki siklus minimum, penyakit pandemic mewabah akibat menurunnya imunitas.

            Menurut Maurice Cotterell, radiasi kosmik bahkan berperan besar di dalam evolusi makhluk hidup. “Jadi, semacam sinar x-ray, itu bisa memengaruhi mutasi genetic. Ini mengapa kini manusia memiliki beragam warna kulit dan cirri fisik. Kera berevolusi menjadi makhluk yang lebih cerdas : manusia. Tentu, tidak semua kera bermutasi karena tidak seluruhnya terkena radiasi kosmik,” katanya.

            Kekuatan Matahari yang memengaruhi segala lapisan kehidupan dan segala unsure tata surya ini yang kemudian mendasari ilmu pengetahuan yang dimiliki peradaban besar suku Maya Aztec di Amerika Tengah. Suku Maya menjadikan Matahari sebagai “Tuhan”, pusat kehidupan.

            Maurice meyakini, sejak dahulu, suku Maya telah memiliki pengetahuan mengenai aktivitas Matahari dan kosmologi. Ini yang kemudian membuat “Tujuh Ramalan Maya” yang misterius. Salah satu ramalan yang presisi dan menghebohkan itu adalah bahwa pada 22 Desember 2012, Matahari akan memasuki polarisasi baru. Yaitu, siklus besar Matahari tiap 5.125 tahun.

            Kejutan menanti ke depan. Apa yang dimaksud dengan siklus besar ini? Namun, terlepas apa itu, Faizal dan para ahli mengingatkan, aktivitas Matahari akan terus meningkat, hingga Mei 2013 mendatang. Dikhawatirkan, badai kosmik ini akan lebih besar dari 1859, yaitu peristiwa badai Matahari terbesar yang tercatat dalam sejarah.

Gambar

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s