Hubungan Kesehatan dan Iklim

Jenewa (AP) – Dua perwakilan PBB telah memetakan persimpangan antara kesehatan dan iklim di era pemanasan global saat ini, yang menunjukkan terjadinya lonjakan penyakit meningitis seiring datangnya badai debu dan demam berdarah saat hujan lebat.  

Para pejabat PBB pada Senin mengatakan bahwa buku mereka “Atlas of Health and Climate” dibuat untuk menjadi panduan pemimpin dunia supaya bisa digunakan sebagai peringatan awal terjadinya penyebaran penyakit.

Meskipun data atau kesimpulan itu bukan hal baru, cara mereka mempresentasikannya menambah kemampuan pemerintah untuk merespon ancaman yang disebabkan oleh meningkatnya temperatur dan perubahan iklim.

Contohnya, sejak 2005 atlas itu menunjukkan bahwa jumlah per pekan kasus meningitis, yang disebarkan oleh bakteri dan kuman, meningkat ketika musim kemarau melanda sub-Sahara Afrika, yang menyebabkan kematian sekitar 25.000 orang selama 10 tahun terakhir. 

Dan sejak 1998, ada pola unik musiman munculnya wabah demam berdarah, yang disebabkan oleh nyamuk, saat periode hujan lebat di wilayah tropis dan subtropis, yang menelan korban 15.000 jiwa per tahun.

Proyek bersama World Health Organization dan World Meteorological Organization, keduanya berbasis di Jenewa, mengatakan kemungkinan semakin memanasnya bumi bertambah 4-10 kali lipat sampai dengan tahun 2050 — dan hal itu kemungkinan besar akan sangat memengaruhi populasi rentan orang lanjut usia dan orang-orang perkotaan khususnya di Afrika, Timur Tengah, dan Asia.

“Banyak penyakit seperti malaria, demam berdarah, meningitis adalah penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim, karena dimensi iklim seperti curah hujan, kelembapan, dan temperatur akan mempengaruhi epidemi itu, wabah itu, baik pengaruh yang ditimbulkan secara langsung oleh parasit atau nyamuk yang membawanya,” tutur Dr. Margaret Chan, direktur jenderal badan kesehatan PBB.

Chan mengatakan data itu bisa digunakan untuk mengatur habitat dan ekosistem hewan dengan lebih baik, yang juga akan memberikan perbedaan besar untuk kesehatan manusia karena 80 persen infeksi penyakit yang ditemukan pada manusia disebabkan oleh hewan.

Sekjen WMO Michael Jarraud mengatakan atlas itu dimaksudkan untuk menerjemahkan dan memetakan informasi yang terdapat dalam dokumen teknis lembaga mereka, “menjadi sesuatu yang bisa digunakan oleh pihak berwenang secara langsung.”

Gambar

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s