Achilles direcall

Aksi ban menggerus aspal dalam ajang Formula Drift memberikan tontonan unik tersendiri. Tapi di balik iklan dan ajang memikat tersebut mengaburkan fungsi ban harian karena ketahanan ban hancur kuat saat digeber (dalam ajang itu).

Tidak sedikit yang bilang bahwa ban ini unggul di segi ekonomis. Dengan tekstur ala sport, seperti Achilles ATR sport misalnya, ban tersebut cukup mumpuni.

Namun tak sedikit pula yang menganggapnya pas, bahkan sejumlah pengguna di AS bisa saja mendapati produk minor. Sebagaimana dikutip dari http://www.1010tires.com, beberapa pengguna di menumpahkan uneg-unegnya.

“Saya baru pakai di bawah 10.000 mil, tapi ban Achilles yang saya pakai ini sudah mulai getas, ada bagian yang seperti tidak menyatu di dinding dalam. Sebenarnya ya ban yang biasa saja, tapi saya tidak akan beli lagi dari merek ini,” ungkap seorang pengendara Lexus SC430 yang mengaku sehari-hari paling kencang melesat 100 km/h.

Ada pula yang menilainya saat kondisi basah. “Harganya sih lumayan murah, tapi tidak terlalu baguslah, misalnya dibanding Maxxis Z1, saat kondisi jalan basah,” ungkapnya soal Achilles ATR sport. “Ya mau bagaimana, harganya murah, jadi kadang rentan understeer (selip saat belok, terutama di kecepatan tinggi),” timpal pengguna lain.

“Gejala understeer bukan hanya dipengaruhi oleh ban semata. Faktor kaki-kaki mobil seperti shock absorber dan piranti lainnya di kaki mobil turut mempengaruhi gejala understeer. Gejala yang terjadi pada satu mobil belum tentu terjadi pada mobil lainnya. Pihak R and D kami terus menerus melakukan penyempurnaan di setiap produksi dari waktu ke waktu,” bantah Michele Olivia, Public Relations PT Multistrada Arah Sarana (MASA), mengklarifikasi pada Otosia.com via email, Rabu (24/10).

Ban Achilles di Indonesia dipasarkan di bawah nama PT Multistrada Arah Sarana, Tbk. Baru beberapa waktu muncul, salah satu produk yang juga dipasarkan di Indonesia, khususnya untuk kendaraan niaga, terkena recall. Anehnya, hal itu seperti tenggelam begitu saja di sini, sementara NHTSA selaku regulator di Amerika sudah meminta penarikan.

Ban yang ditarik itu bernama Radar Radial dan Desert Hawk A/P. Desert Hawk untuk kendaraan niaga ringan dan diproduksi antara Januari 2010 dan November 2011. Sementara itu, ban Radar Radial untuk yang berkode RLT-9 yang diproduksi pada 30 Desember 2009 hingga 31 Januari 2011.

“Yang terjadi sesungguhnya adalah Voluntary Recall. Yaitu penarikan produk oleh produsennya atas inisiatif sepenuhnya dari produsen. Ketika kita mengetahui ada kekurangan di produk yang beredar di pasar, produsen berinisiatif untuk menarik produk tersebut dari pasar guna menghindari kemungkinan terburuk menimpa konsumen,” ungkap Olivia.

“Ini adalah langkah bertanggung jawab dari produsen dan menunjukkan sistem monitor after sales kami berjalan dengan benar. Produk yang dihasilkan oleh produsen manapun di dunia, khususnya produsen besar, pernah melakukan penarikan seperti ini. Demi keselamatan, keamanan dan kepuasan pemakai kami menarik produk tersebut. Produk yang kami recall dari Amerika langsung kami scrap dan tidak diedarkan serta dijual di Indonesia. Produk yang dijual di Indonesia sepenuhnya sudah sesuai dengan kondisi dan iklim di Indonesia,” tambahnya.

Sebelumnya beberapa waktu lalu NHTSA melaporkan bahwa bagian yang terbenam dan menahan di velg di model Desert Hawk terlalu tipis. Sementara itu, model Radar mengalami cacat dinding samping.

Gambar

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s