Kontrol Kualitas

 

 

 

Standar Nasional  Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KONTROL KUALITAS DAN JAMINAN KUALITAS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

 

 

 


 

Umum

 

 

 

Kontrol kualitas menjamin keandalan penampilan sistem yang dikembangkan sesuai dengan asumsi kekuatan cadangan yang diharapkan dalam desain. Untuk mempelajari “kontrol kualitas” dan mendapat “jaminan kualitas” akan melibatkan banyak unsur seperti pemilik, perencana, penghasil beton, pengetes di laboratorium, pelaksana, dan pemakai.

Hampir semua tahap dari proses total konstruksi dipengaruhi oleh standar-standar yang kompleks dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh berbagai instansi. Tidak seperti pada produksi mekanis, pelaksanaan bangunan tidak mengikuti suatu moving-belt maupun proses-proses berantai yang hanya ada pada produksi mesin di pabrik, yang pekerjaannya relatif diam sementara produksinya berjalan. Dalam sistem konstruksi, termasuk juga konstruksi beton bertulang di sini, banyak hal kompleks yang saling berkaitan. Hal ini, kliususnya pada beton, ialah karena beton bukanlah material yang homogen. Sifat-sifatnya dipengaruhi oleh berbagai variabel. Diperlukan keahhan khusus dalam kontrol kualitas yang terutama diakibatkan oleh efek manusiawi terhadap kualitas produk akhirnya.

Keandalan prestasi manusia yang terlibat dalam berbagai tahap pernbuatan sistem struktur beton dari konsep desain, pelaksanaan, dan penggunaan, akan bergantung pada pengetahuan, keterampilan, dan komunikasi pada semua tahapan. Arus informasi yang mulus di antara semua yang terlibat dan saling pengertian dalam mengembangkan masalah akan menghasilkan kemajuan motivasi dalam mencari solusi, yang-akhirnya akan menambah kontrol kualitas dan menghasilkan jaminan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai ringkasan, jarninan kualitas harus diberikan berdasarkan kontrol kualitas pada setiap tahapan dan merupakan interaksi berbagai parameter yang ditunjukkan pada gambar 1.

 

 

 

 

 


KONTROL KUALITAS DAN JAMINAN KUALITAS

 

 

1      Pemakai

Konstruksi suatu sistem desain ditentukan terutama oleh lima hal utama, yaitu perencanaan (planning), perancangan (design), pemilihan material, pelaksanaan (construction), dan penggunaan (termasuk juga perawatan). Gambar 2 memperlihatkan secara skematis urutan kelima tahapan tadi beserta pembagian tanggung jawabnya.

 

Gambar 1 Komponen-komponen dalam system jaminan kualitas

 

 

Gambar 2 Skema control kualitas

 

Seperti terlihat pada diagram tersebut, proses dimulai dari pemakai — karena maksud utama suatu proyek adalah untuk memenuhi kebutuhan pemakai — dan berakhir pada pemakai juga sebagai pihak yang berkaitan langsung dengan nilai ekonomis produk akhir.

 

Jaminan kualitas diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan hak pemakai. Ini merupakan jaminan bahwa semua aktivitas yang mempengaruhi kualitas akhir struktur beton :

  1. didasarkan atas persyaratan-persyaratan dasar yang ditetapkan dengan jelas, yang memenuhi batasan kondisi operasional dan lingkungan proyek tersebut.
  2. disajikan secara akurat dan layak dalam gambar kerja berdasarkan prosedur desain yang optimal.
  3. ditangani secara tepat dan efisien oleh orang yang ahli sesuai dengan yang dikehendaki pada rencana awal.
  4. dijalankan dengan sistematis sesuai dengan spsifikasi yang ditetapkan pada peraturan-peraturan yang berlaku di tempat yang bersangkutan.

 

Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, perlu adanya bantuan pakar dalam masing-masing tahapan seperti yang diperlihatkan pada gambar 2, dimulai pada perencana dan perancang dan berakhir pada pelaksana.

 

 

 

2      Perencanaan

 

Untuk merencanakan pelaksanaan sistem struktur dengan sukses, semua kegiatan — baik kegiatan utama maupun kegiatan yang sangat kecil sekalipun —harus ditetapkan dengan jelas. Hal ini dilakukan dengan mencantumkan semua kegiatan proyek ke dalam suatu rencana jaringan (network) yang di dalamnya tercantum jelas kegiatan-kegiatannya, hubungan antarkegiatan, hubungan setiap kegiatan dengan waktu, analisis kontrol masukan dan keluaran, dan menyatakan semua ini dalam bentuk daftar rinci (checklist). Dengan cara demikian, seorang pengambil keputusan yang sukses akan lebih mudah bekerja. Proses ini biasanya berkaitan dengan kebutuhan fungsi apakah yang harus dicapai dengan proyek tersebut, di mana dan kapan fungsi ini dilaksanakan, bagaimana sistem yang dikerjakan, dan siapa yang akan menjadi pemakainya. Dengan menentukan semua fungsi ini secara benar akan dihasilkan keputusan yang menuju kepada kontrol kualitas yang diperlukan dan jaminan kualitas yang sesuai dengan yang diharapkan.

 

3      Desain (Perancangan)

 

Kontrol kualitas dalam desain bertujuan membuktikan bahwa sistem desain mempunyai keamanan, serviceability, dan keawetan. Juga diharapkan memenuhi persyaratan dari peraturan yang ada, dan desain tersebut disajikan dengan benar pada gambar kerja dan spesifikasinya. Derajat kontrol kualitas bergantung pada jenis struktur yang akan dibuat: semakin penting sistem tersebut, semakin diperlukan kontrol kualitasnya.

Sebagai syarat minimum, suatu desain harus selalu dicek oleh pakar lain yang bukan perancang proyek tersebut. Biasanya satu dari tiga jenis pengecekan yang dipakai bergantung pada kepraktisan yang dikehendaki. Ketiga jenis tersebut adalah

(1)  cek langsung secara menyeluruh di mana semua perhitungan diteliti kembali;

(2)  cek paralel total, di mana dibuat perhitungan lagi secara independen, dan kedua basil dibandingkan; dan

(3)  cek sebagian di mana bagian-bagian tertentu dicek, baik dengan cara langsung maupun dengan cara paralel.

Secara umum kontrol kualitas perhitungan desain dapat dicapai dengan memastikan bahwa:

  1. ada pemahaman yang jelas terhadap konsep struktural yang berlaku pada sistem tertentu.
  2. ada pengertian dan kesesuaian dengan persyaratan dasar dari desain dan lingkungan, operasional, dan kondisi batas yang ada.
  3. apabila dimungkinkan, digunakan program komputer yang dapat digunakan sebagai pengeeekan.
  4. tidak ada ketidaksesuaian antara berbagai tahap atau bagian perhitungan desain.
  5. semua kasus beban dan kombinasi beban seperti yang dijelaskan pada Bab 4.6 ditinjau.
  6. digunakan faktor keamanan yang layak, juga dicapai taraf keandalan yang dapat dikehendaki.
  7. digunakan program komputer yang dapat dipercaya oleh pengguna yang mengerti benar Tatar belakang program tersebut, apalagi jika program komputernya merupakan suatu program yang total computer-aided design.

Karena gambar kerja merupakan penghubung antara proses desain dengan proses pelaksanaan, maka gambar ini harus merupakan obyek utama dalam jaminan kualitas desain. Dengan demikian sangat diperlukan pengetahuan tentang membaca, dan menginterpretasikan gambar kerja, selain juga dibutuhkan kemampuan untuk membuat sketsa yang jelas mengenai detail desain apabila sistem yang dibangun harus merefleksikan desain aktualnya. Gambar 4.4, juga gambar 10.11 sampai gambar 10.20, ditujukan untuk memberikan petunjuk umum dalam pendetailan yang sistematis, yang diperlukan dalam membuat gambar kerja yang logic.

Kontrol kualitas gambar kerja pada umumnya dimaksudkan untuk membuktikan apakah parameter-parameter di bawah ini diperhatikan dalam membuat berkas gambar kerja:

  1. Definisi umum struktur
  2. Konsistensi di antara gambar kerja
  3. Kesesuaian dengan kondisi di lapangan, termasuk juga persyaratan tes pengeboran tanah
  4. Daftar jenis, mutu, kualitas, dan kekuatan struktural semua material konstruksi, seperti semen, komposisi beton dan kekuatannya, baja tulangan, perancah, acuan, dan sebagainya
  5. Tidak ada gambar detail yang dapat mempunyai arti banyak atau menimbulkan keraguan yang dapat menimbulkan risiko salah pengertian
  6. Sesuai dengan basil perhitungan desain
  7. Cukup memberikan rincian pelaksanaan dan penampang melintang, juga toleransi dimensinya.
  8. Urutan pemasangan perancah & acuan beserta urutan pembongkarannya

 

 

  1. Pemilihan Material

 

Telah ditekankan di atas bahwa kualitas material beton bertulang tidak hanya ditentukan oleh tes kekuatan tarik, atau tekan. seperti telah dibahas pada bab terdahulu, banyak faktor lain yang mempengaruhi produk akhir seperti faktor air-semen, kandungan semen, karakteristik rangkak dan susut, dan aspek keawetan dan kondisi lainnya.

Dua jenis kualitas yang ditinjau ialah (1) kualitas yang diperlukan, yaitu yang dispesifikasikan dalam persyaratan kontrak, dan (2) kualitas guna, yaitu kemampuan material untuk memenuhi kebutuhan pemakai.

Kualitas yang diperlukan dari suatu material, seperti beton siap campur (ready-mix concrete), dijamin dengan kontrol produksi. Proses ini meliputi:

  1. Organisasi umum staf produksi dan operasinya;
  2. Urutan produksi dan pemasokan material pembentuknya, seperti batu, agregat halus, semen, dan bahan tambahan;
  3. Kontrol di dalam yang meliputi frekuensi penelitian dan tes, analisis hasil tes-, metode observasi dan pencatatan yang digunakan, dan prosedur yang digunakan untuk mengatasi penyimpangan dan ketidaksesuaian;
  4. Penggunaan diagram kontrol statistik untuk mengklasifikasikan taraf mutu yang disyaratkan ke dalam variabel utama yang terukur maupun variabel yang tidak terukur, pemilihan variabel utama yang akan dikontrol dengan diagram kontrol, dan persiapan diagram rata-rata dan diagram selang untuk masing-masing variabel yang dipilih. Variabel terukur dikontrol dengan menggunakan diagram X dan R, sedangkan variabel tak terukur dikontrol dengan menggunakan diagram p dan c yang masing-masing merupakan rata-rata mean dan variasi. Harus dispesifikasikan; batas aksi, batas peringatan, juga batas atas dan batas bawah;
  5. Klasifikasi kerusakan-kerusakan sebagai variabel yang tak ditetapkan.

 

Kualitas yang berguna ditentukan oleh kontrol kesesuaian di dalam spesifikasi. Kualitas yang dikehendaki oleh pemilik ini meliputi perancangan campuran beton, juga kualitas penulangannya, apakah penulangan normal ataukah penulangan pratekan. Selama jangka waktu operasi perlu adanya catatan kontrol kualitas yang diharapkan, dan juga jaminan kualitas beton. Sebagai contoh, misalnya kualitas beton dapat dibuat dengan baik apabila mempertahankan secara statistik kontrol kualitas tes kekuatan. Dengan demikian taraf kontrol kesesuaian dapat bervariasi bergantung pada keandalan dan keterpercayaan akan penanganan kualitas penghasil material yang diharapkan sesuai dengan spesifikasi.

.

  1. Pelaksanaan

 

Pelaksanaan (construction) di sini dimaksudkan sebagai tahap pengerjaan suatu proyek yang harus memenuhi semua persyaratan spesifikasi dan desain, di dalam batas waktu tertentu, dengan harga yang minimum. Untuk mencapai jaminan kualitas yang diinginkan, tahap pelaksanaan ini harus didahului dengan tahap persiapan yang benar, yang dapat merupakan bagian dari tahap desain. Tahap persiapan atau perencanaan merupakan tahap yang kritis karena tahap ini memberikan tinjauan secara jelas dan menyeluruh mengenai berbagai aktivitas dan masalah-masalah yang mungkin timbul pada waktu pelaksanaan. Dewasa ini penggunaan komputer untuk tahap perencanaan merupakan suatu hal yang utama dalam proyek-proyek besar agar semua masukan yang relevan dalam menghasilkan kualitas yang baik, semua keluaran, penjadwalan, dan harga dapat terus dipantau.

Faktor manusia merupakan faktor yang sangat penting di dalam tahap pelaksanaan. Dalam banyak hal, kegiatan di lapangan meliputi pemanfaatan tenaga kerja dan semua daya guna. Sistem arus informasi yang baik, pembagian tugas yang jelas, dan imbalan untuk hasil yang baik akan menambah motivasi sehingga memperbaiki sistem jaminan kualitas secara keseluruhan, yang pada akhirnya akan menghasilkan optimasi faktor efisiensi/harga. Langkah-langkah yang harus diikuti untuk mendapat jaminan kualitas, diringkas di bawali ini dan digambarkan secara skematis pada Gambar 3

 

 

Gambar 3 Jaringan urutan operasi struktur beton.

                                               

  1. Persiapan secara terorganisasi yang meliputi perencanaan, penjadwalan waktu, rincian kontrak, juga definisi dan pelimpahan tugas.
  2. Persiapan di lapangan meliputi jalan penghubung, kantor direksi, sumber-sumber energi, kenyamanan, dan sebagainya.
  3. Sumber, jenis perancah, dan persiapan pemasangan.
  4. Sumber tulangan, pembuatan, dan perencanaan.
  5. Perencanaan campuran beton, desain campuran di laboratorium, dan koordinasi dengan perencana.
  6. Pengiriman beton, pengecoran, dan uji slump di lapangan.
  7. Perawatan dan pemeliharaan permukaan beton yang sedang mengeras.
  8. Uji kontrol kualitas beton setiap selang 7 hari dan 28 hari.
  9. Pembersihan perangkat kerja, pelepasan tiang perancah secara bertahap, pembongkaran seluruh perancah dan acuan.

 

Kemungkinan adanya kesalahan dalam menjalankan kontrol kualitas dapat saja terjadi. Pentingnya dan besarnya kesalahan tersebut bergantung pada berbagai faktor yang telah dijelaskan dalam bab-bab di muka. Dalam hal mempergunakan pengukuran korektif, suatu tahapan logic yang berurutan perlu diikuti agar tidak timbul temuan dan analisis yang tidak diinginkan. Suatu analisis kuantitatif dari dampak kesalahan seringkali diadakan apabila kemungkinan munculnya semua kejadian pokok dapat diketahui oleh penyelidik.

Diagram alir dalam Ganibar 4. menggambarkan urutan sebab-akibat yang dapat diikuti dalam mengidentifikasi kejadian yang tidak diinginkan dalam program jaminan kualitas. γ dalam diagram adalah faktor batas keamanan yang ada pada desain sesungguhnya.

 

 

 

 

Gambar 4  Diagram alir sebab-akibat

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s