Cerita anak 1(Hari Libur yang Menghibur)

Libur panjang telah usai
Hari belajar akan mulai
Kenangan pada libur yang panjang
Tetap terbayang dan menyenangkan
Ihsan sedang membaca sajaknya ketika Ibu Guru masuk kelas, “Wah bagus sekali sajakmu. Sedang asyik rupanya,” kata Bu Guru.
“Ya Bu, kami sedang becerita tentang hari libur. Ihsan menulis sajaknya yang bagus,” kata Yustito.
“Baik kalau begitu, ceritakan pengalamanmu masing-masing. Berceritalah dalam kelompokmu saling bergantian. Tuliskan cerita temanmu yang paling menarik. Setelah selesai bacakan di depan kelas,” kata Bu Guru.
Berbagai macam cerita mereka. Ada yang berlibur ke daerah pegunungan, ke rumah nenek, ada yang ke pantai seperti Pasir Putih. Ada pula yang ke Pulau Seribu dekat Jakarta. Ada pula yang ke tempat pariwisata lain. Semua cerita mereka menyenangkan.
Pulang sekolah, Iwan heran melihat orang ramai di rumahnya. Perlahan-lahan ia mendekati ruang tamu.
“Nah ini dia, Iwan. Ketika kamu berangkat dulu, dia sedang sakit. Ini pamanmu, wan. Paman Mustafa baru dating dari Kalimantan. Mereka tinggal di Desa Makmur,” kata ayah Iwan. Iwan penuh hormat dan malu mencium tangan pamannya. Rasanya ia belum pernah kenal. Paman melihat keragu-raguan Iwan lalu paman berkata, “Wan, kamu past belum kenal Paman. Sebelas tahun yang lalu Paman meninggalkan desa kita ini. Desa kita sudah sangat sempit, Wan. Dulu kami dapat makan dari hasil sawah kakek. Tetapi, setelah kami semua berkeluarga dan masing-masing mempunyai anak, tanah warisan kakek tidak cukup lagi. Oleh karena itu, dari enam bersaudara kami putuskan hanya seorang yang tinggal di desa ini. Seharusnya ayahmu ikut kami. Paman Dudung yang tingal. Tetapi, waktu itu kamu sakit maka diputuskan ayahmu sekeluarga yang tinggal.”
“Sekarang pamanmu jadi orang kaya, wan. Lihatlah oleh-oleh yang dibawa pamanmu. Bukan untuk kita saja tetapi untuk orang seluruh kampong. Selain itu, Pamanmu ingin menyumbang perbaikan masjid desa kita ini,” kata Ayah. Iwan kagum melihat pamannya. “Makanlah, Wan dan istirahat. Kamu akan Paman ajak ke Jakarta. Paman sangat rindu pada Bibi Atikah. Paman dengar anak-anaknya juga sudah besar. Sambil kita melihat Taman Impian Jaya Ancol. Menurut berita, ada Dunia Fantasi di sana,” kata Paman. Iwan sengan sekali. Ia merasa ikut menikmati hasil dari Desa Makmur.
Mendengar cerita paman, banyak orang kampung si Iwan ikut paman bertansmigrasi. Transmigrasi seperti ini disebut transmigrasi swadaya. Trasnmigrasi atas kesadaran penduduk sendiri dengan biaya sendiri mau pergi ke Kalimantan. Mereka bertekad mengubah nasib. Yang mereka cita-citakan memperoleh kehidupan yang makmur.
Yustito, Buyung, Inu, Fatimah, pergi ke rumah Ibu Atkiah. Bu Atikah, guru mereka, telah tiga hari tidak mengajar. Bu Atikah sakit.
“Wah, mengapa kalian repot-repot. Ibu mulai sembuh. Insya Allah, Ibu akan ke sekolah tiga hari mendatang!” sapa Bu Atikah ketika murid-muridnya dating. “Tidak Bu, kami sudah ingin bertemu Ibu. Lagi pula kami…,” Fatimah ingin meneruskan ucapannya. “Ada apa, Fat? Biasanya kamu bukan anak pemalu,” kata Bu Atikah. “Kami sebenarnya ingin menanyakan tentang transmigrasi. Kami mendapat tugas rumah tentang hubungan keluarga berencana dan transmigrasi,” sahut Fatimah. “O, kedatangan kalian, tepat sekali. Abang saya baru dating dari Kalimantan. Nah, itu mereka, baru kembali dari Ancol. Bang Mus, tolong ceritakan pada murid-murid saya ini. Tentang Desa Makmur,” Bu Atikah memanggil abangnya.
“Anak-anak, Paman pergi ke Kalimantan sebelas tahun yang lalu. Waktu itu terjadi letusan Gunung Galunggung yang paling dahsyat. Rumah, sawah, kebun bahkan hewan ternak yang Paman pelihara musnah ditelan api dan lahar. Tetapi, kami orang-orang kampong tidak mengenal putus asa. Indonesia luas dan subur. Paman harus memikirkan dan merencanakan masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, ketika ada tawaran dari pemerintah untuk bertansmigrasi ke Kalimantan Barat segera Paman terima.
Sekarang masa depan Paman dan keluarga terjamin. Paman telah mempunyai dua hektar tanah perkebunan, dua hektar tanah persawahan yang subur, sebuah rumah sederhana dengan luas halaman yang cukup untuk ditanami keperluan dapur sehari-hari,” Paman mengakhiri ceritanya.
“Wah, Paman telah mempunyai rumah masa depan,” ujar Yustito. “Ya Yus, rumah masa depan itu tidak perlu terlalu besar. Karena keluarga juga harus merupakan keluarga kecil. Pekarangan yang tidak terlalu luas dapat ditanami untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Cara menanam sekarang lebih canggih. Dengan tanah yang sempit dapat dilakukan cara bertanam hidroponik,yaitu bertanam tanpa menggunakan tanah,” kata Inu.
“Aku membayangkan rumah masa depan itu adalah sebuah rumah sederhana dengan tiga kamar. Halamannya kira-kira seluas seratus meter persegi. Tanah seratus meter persegi itu dapat ditanami sayuran, tanamn apotek hidup, dan beberapa macam buah-buahan. Ingin makan buah tinggal petik,” kata Maria. Mereka semua tertawa membayangkan “rumah masa depan Maria”.
“Kebakaran, kebakaran,” Yustito, Didi, dan Muna yang sedang berjalan ketika pulang sekolah terkejut. Mereka melihat kea rah rumah sakit, sura teriakan itu masih terdengar.
“Tidak ada tanda-tanda kebakaran, Yus!” kata Didi. Melihat wanita setengah baya yang berteriak itu memeluk bantal guling sambil menangis.
Yustito dan teman-temannya ingin tahu apa yang telah terjadi. Mengapa wanita itu berteriak kebakaran lalau menangis sambil memeluk bantal guling. Yustito mendekati pintu masuk rumah sakit. Ada seorang kakek yang menasehati wanita yang sedang menangis itu.
Yustito dan teman-temannya bertanya kepada kakek tentang wanita itu. Kakek bercerita, bahwa keadaan wanita itu jadi demikian karena kebakaran.
Wangi adalah anak tunggal Kakek Genap. Rumah mereka terbakar setahun yang lalu, akibat ledakan kompor tetangganya. Api cepat menjilat seluruh perkampungan karena sebagian besar rumah penduduk terbuat dari bilik.
Kakek Genap sedang bertugas jaga malam waktu itu. Wangi keluar rumah tetapi tidak sadar, jika yang dipeluknya adalah bantal guling. Suaminya yang bingung masuk kembali ke dalam ruamh untuk mengambil anaknya. Tetapi malang, sebuah balok besar menimpa dirinya. Ia dan anaknya mati terbakar. Sejak itu Wangi terganggu jiwanya.
“Kasihan,” kata Muna sambil menyeka air matanya.
“Ya, menyedihkan. Oleh karena itu, kebakaran harus dicegah. Jangan suka main api atau main petasan. Puntung rokok jangan dibuang sembarangan. Pemasangan listrik di rumah-rumah harus benar. Kompor gas tidak boleh bocor,” tambah Didi.
“Semua murah, semua murah! Buku murah, pensil murah! Semua lebih murah!” kata Inu kepada teman-temannya. “Harga buku di koperasi sekolah urah, lagi pula keuntungan untuk kita bersama!” kata Yustito.
“Heran! Mengapa keuntungan untuk kita semua, Kak?” Tanya Munadiani kepada Yustito. “Benar, sebab yang menjadi modal koperasi itu uang iuran kita bersama. Muna mempunyai simpanan pokok Rp 500,00 di koperasi. Kakak juga demikian. Jadi, semua murid SD kita ini mempunyai simpanan di koperasi. Usaha kita adalah toko koperasi. Keuntungannya akan dibagi rata pada semua anggota setelah satu tahun,” Yustito menjelaskan tentang koperasi kepada Muna.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s